headlines

Tiktok Project S: Apakah ancaman untuk UMKM Indonesia?

Bisnis20 September 2023

TikTok telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan pengguna yang pesat di seluruh dunia. Di Indonesia, pergerakan TikTok merajai ruang digital juga sangat cepat. Terdapat lebih dari 109,9 juta netizen di Indonesia yang memiliki akun Tiktok . Pesatnya pertumbuhan pengguna platform Tiktok di Indonesia terlihat dari pertumbuhan sekitar 17 juta pengguna baru dalam setahun terakhir.

Tiktok mendominasi Indonesia

Banyaknya pengguna menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan. Potensi ekonomi ini pun tak luput dari pantauan TikTok. Bahkan, aplikasi ini bisa dikatakan cukup agresif untuk menggusur platform lain yang sebelumnya telah berupaya membangun pasar digital Indonesia.

Dengan total jumlah pengguna melebihi 109 juta, Indonesia menjadi negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar kedua di dunia, hanya tertinggal dari Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 150 juta pengguna. Selain itu, Brazil juga menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna TikTok yang besar, yakni mencapai 84,1 juta akun pada Januari 2023.

Tiktok juga terlihat jelas jika dibandingkan dengan platform Meta seperti Instagram. Jumlah pengguna Instagram di Indonesia hanya berkisar 89 juta, berkurang sekitar 20 persen dibandingkan jumlah pengguna Tiktok . Jangkauan iklan di Instagram juga baru mencapai 41,9 persen dari total populasi orang dewasa di Indonesia.

Masuk “Proyek S” dari Tiktok

Dengan lebih dari 1 miliar pengguna di seluruh dunia, Tiktok telah menjadi salah satu platform media sosial terbesar saat ini. Besarnya basis pengguna ini memberikan keuntungan yang dapat diubah menjadi keuntungan melalui model bisnis periklanan. Setidaknya hal ini biasa dilakukan oleh platform media sosial lain sebelum Tiktok .

Peta bisnis Tiktok tidak hanya sebatas pada layanan penempatan iklan saja. Salah satu ciri khas Tiktok dalam hal bisnis adalah inovasinya dalam menggabungkan pengalaman media sosial dan belanja.

Melalui fitur Tiktokshop , platform ini menggabungkan platform e-commerce dan media sosial, dimana pengguna dapat berinteraksi dan bertransaksi satu sama lain dalam satu channel.

Potensi Distorsi Pasar dari Tiktok

Meski “Project S” belum diluncurkan secara resmi, prototipe fitur ini telah diuji di Inggris dengan nama Trendy Beat. Fitur ini memungkinkan TikTok untuk menjual produknya sendiri, sehingga menimbulkan potensi ancaman bagi pedagang yang sebelumnya berjualan di platform tersebut. TikTok memiliki keunggulan dalam memanipulasi konten populer dan mengetahui produk apa yang diminati pasar di suatu negara, sehingga dapat mempengaruhi preferensi konsumen.

Sekarang terjadi di Indonesia, di mana produk-produk skincare asal Cina, seperti Skintific dan Originote, diam-diam menyalip merek lokal dalam pasar produk skincare. Skintific, yang merupakan salah satu produk andalan dari project ini, kini mendominasi pasar produk skincare di Indonesia.

Produk-produk kosmetik dan skincare adalah yang paling banyak dibeli oleh konsumen Indonesia di TikTok Shop. Algoritma TikTok memahami hal ini dan menciptakan Skintific, yang telah berhasil bersaing dengan produk lokal lainnya. Dalam waktu hanya dua tahun, Skintific berhasil mengalahkan dua merek lokal terkemuka, Whitelab dan Scarlett, dengan hampir satu juta pembelian di TikTok Shop, meskipun harganya relatif lebih tinggi.

Ancaman yang ditimbulkan oleh “Project S” adalah persaingan tidak sehat karena Tiktok sebagai produsen dan penjual mempunyai kendali atas produknya sendiri. Jika tidak diatur dengan baik, pasar Indonesia bisa kebanjiran produk impor dengan harga yang sangat murah sehingga membuat UMKM kesulitan bersaing.

Respons cepat dari Pemerintah

Dampak dari Project S ini sangat potensial untuk menjadi bencana. Hal tersebut membuat project S ini telah dilarang di beberapa negara termasuk Indonesia karena dikhawatirkan dapat merusak ekonomi dan bisnis skala kecil serta menempatkan produk lokal dalam ketidakpastian. Indonesia sedang berjuang untuk menjaga produk lokal tetap relevan di mata konsumen

Selain itu, Menteri terkait membuatkan kebijakan melarang menjual barang import di ecommerce dengan harga minimum 100 USD. Dengan kebijakan ini, akan membantu UMKM tetap kompetitif dan akan membantu tetap bisa bertumbuh.

Seiring dengan pengembangan teknologi, UMKM harus tetap melakukan pengembangan suoaya tetapa bersaing dengan produk import. Pemerintah tetap akan waspada dan selalu melakukan kebijakan untuk melindungi UMKM. Maksimalkan penggunaan platform tiktok dan nikmati jangakauan yang luas.