headlines

Nilai-Nilai Asia: Apakah masi relavan zaman sekarang?

Kehidupan di perantauan12 Juni 2024

Nilai-nilai Asia, serangkaian nilai yang dipromosikan sejak akhir abad ke-20 oleh beberapa pemimpin politik dan intelektual Asia sebagai alternatif sadar terhadap nilai-nilai politik Barat seperti hak asasi manusia, demokrasi, dan kapitalisme. Para pendukung nilai-nilai Asia biasanya menyatakan bahwa pesatnya perkembangan perekonomian di Asia Timur pada periode pasca-Perang Dunia II disebabkan oleh kesamaan budaya masyarakat mereka, khususnya warisan Konfusianisme. Mereka juga menegaskan bahwa nilai-nilai politik Barat tidak cocok untuk Asia Timur karena nilai-nilai tersebut memupuk individualisme dan legalisme yang berlebihan, yang mengancam akan merusak tatanan sosial dan menghancurkan dinamisme ekonomi. Di antara nilai-nilai Asia yang sering dikutip adalah disiplin, kerja keras, berhemat, prestasi pendidikan, keseimbangan kebutuhan individu dan masyarakat, dan penghormatan terhadap otoritas; banyak dari nilai-nilai ini yang diperjuangkan

APA ITU ‘NILAI ASIA’?

Konsensus, harmoni, persatuan, dan komunitas adalah nilai-nilai yang umumnya dikemukakan sebagai esensi budaya dan identitas Asia.

Pertama, hak asasi manusia tidak bersifat universal dan tidak dapat diglobalisasi. Kedua, masyarakat Asia tidak berpusat pada individu namun pada keluarga. “Seharusnya merupakan hal yang alami bagi orang-orang Asia untuk mengutamakan kepentingan keluarga dan negara sebelum kepentingan masing-masing individu.

Poin ketiga merupakan lanjutan dari poin kedua, dimana masyarakat Asia menempatkan hak-hak sosial dan ekonomi di atas hak-hak politik individu.

Terakhir, hak suatu negara untuk menentukan nasib sendiri mencakup yurisdiksi domestik pemerintah atas hak asasi manusia. “Ini menyiratkan bahwa negara lain tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri suatu negara, termasuk kebijakan hak asasi manusianya

Nilai-nilai Asia dan modernitas

nilai-nilai asia

Klaim mengenai manfaat nilai-nilai Asia mendapat perhatian khusus pada awal tahun 1990an, ketika klaim tersebut diutarakan oleh tokoh politik terkemuka seperti mantan perdana menteri Singapura Lee Kuan Yew. Klaim tersebut bertentangan dengan pernyataan Barat pada masa kini yang menyatakan bahwa runtuhnya komunisme Eropa dan keberhasilan sosialisme pasar Tiongkok telah menunjukkan keunggulan hak asasi manusia, demokrasi, dan kapitalisme dibandingkan bentuk-bentuk pengorganisasian masyarakat yang bersaing.

Perdebatan nilai-nilai Asia juga terjadi di kalangan internal masyarakat Asia. Pada saat terjadi perubahan ekonomi dan sosial yang pesat di Asia Timur, meningkatnya individualisme dan demokratisasi serta gerakan hak asasi manusia yang menantang tatanan sosio-ekonomi dan rezim otoriter yang sudah mapan. Perdebatan ini merupakan sebuah elemen dalam perjuangan yang lebih besar mengenai persaingan visi modernitas dan bagaimana masyarakat Asia harus diorganisir.