headlines

KTT ASEAN 2023: Tantangan yang dihadapi dan cara mengatasinya.

Kehidupan di perantauan8 September 2023

Meskipun meningkatnya ketidakpastian secara global dan campur tangan eksternal, KTT ASEAN ke-43 dengan serangkaian hasil terlaksana di Jakarta, Indonesia. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang menyerukan persatuan dan mendorong kerja sama di Asia Timur, dan menyatakan harapan bahwa negara-negara di luar kawasan sepenuhnya menghormati upaya yang dilakukan oleh negara-negara kawasan untuk menegosiasikan aturan Laut Cina Selatan dan menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Indonesia telah mengalihkan fokus dan perhatian pada tantangan signifikan berikutnya: memimpin ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) pada tahun 2023.

Ini merupakan kelima kalinya Indonesia menjabat Keketuaan ASEAN – sebelumnya pada tahun 1976, 1996, 2003 dan 2011. Penyerahan kepemimpinan ASEAN dari Kamboja ke Indonesia dilakukan pada KTT ASEAN pada November lalu .

Agenda Utama Indonesia

Mengingat Indonesia menjadi ketua ASEAN tahun ini. Indonesia bertanggung jawab untuk memimpin berbagai upaya ASEAN dalam menyelesaikan krisis regional dan global.

Negara-negara ASEAN saat ini terpecah belah karena masalah-masalah besar, seperti Laut Cina Selatan dan Myanmar. Masing-masing negara anggota ASEAN mempunyai posisi, sudut pandang dan kepentingan yang berbeda-beda terhadap permasalahan tersebut sehingga menjadikan kelompok tersebut rentan dan berpotensi konflik atas isu-isu tersebut

Dua negara adidaya, Tiongkok dan Amerika Serikat, saat ini sedang bersaing untuk mendapatkan pengaruh sebagai bagian dari persaingan global antara negara-negara besar. Asia Tenggara berlokasi strategis di tengah-tengah Indo-Pasifik, kawasan yang semakin mendapat perhatian baik dari pembuat kebijakan maupun pakar dalam beberapa tahun terakhir.

Indonesia tidak hanya perlu mempertimbangkan kepentingan negara-negara anggota ASEAN, namun juga perlu menyeimbangkan persaingan kepentingan dari luar negeri.

Kerjasama Regional adalah Kuncinya

Sebagai negara terbesar di ASEAN dan telah memperkenalkan terobosan regional di masa lalu, Indonesia tidak dapat mengatasi tantangan sendirian. Indonesia perlu melakukan kerja sama penuh antar anggota ASEAN dengan kepentingan dan tujuan nasional yang berbeda.

Isu-isu seperti ketahanan pangan, keamanan maritim dan kejahatan transnasional dapat menjadi titik awal untuk melihat pentingnya ASEAN bagi negara-negara anggota. Persoalan-persoalan yang disebut sebagai “masalah-masalah yang mudah diselesaikan” ini banyak sekali, dan Indonesia dapat memelopori upaya-upaya di tingkat regional untuk mendorong kerja sama ASEAN lebih lanjut dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Dampak pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina terhadap rantai pasokan dan perekonomian global harus menunjukkan kepada negara-negara ASEAN bahwa mereka memerlukan kerja sama yang lebih kuat di tingkat regional, dan pentingnya bekerja dalam kerangka ASEAN dibandingkan menerapkan kebijakan secara sepihak.

Salah satu contoh keberhasilannya adalah dalam hal persiapan menghadapi pandemi, dengan didirikannya Pusat Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Baru ASEAN pada Pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN ke-15 di Bali. Sesuatu yang dapat digunakan oleh kelompok tersebut jika terjadi pandemi baru yang melanda wilayah tersebut’

Lebih Banyak Masalah yang Harus Ditangani

Dengan semakin banyaknya isu geopolitik yang menjadi sorotan, pertemuan 18 negara ini diselenggarakan oleh ASEAN sebagai bagian dari pertemuan para pemimpin mengenai kerja sama Asia Timur. Selain anggota ASEAN, pertemuan ini juga mempertemukan para pemimpin dari delapan mitra dialog: Tiongkok, Amerika Serikat, Rusia, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Para analis mengatakan bahwa AS, sebagai negara di luar kawasan, sedang berusaha melemahkan persatuan dan integrasi Asia Pasifik dan menciptakan lebih banyak gejolak. Sebagai tetangga dekat negara-negara ASEAN, Tiongkok telah lama menjadi mesin pembangunan, stabilitas, dan kelancaran kerja sama di kawasan Asia-Pasifik. Negara-negara di kawasan ini harus tetap waspada terhadap hegemoni AS dan mencegah AS menciptakan krisis baru di Asia-Pasifik.

Tantangan yang dihadapi Indonesia sebagai Ketua ASEAN sangat banyak, namun tantangan tersebut bukannya tidak dapat diatasi.

Semua permasalahan di atas akan menjadi bagian dari upaya Indonesia yang lebih luas untuk mencegah ASEAN menjadi medan pertempuran politik negara-negara besar.

Indonesia perlu memimpin ASEAN dalam memperkuat dan memperdalam kerja sama ASEAN di berbagai sektor untuk meningkatkan ketahanannya dari pengaruh luar.

Jika Indonesia mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut, menavigasi situasi geopolitik dan menciptakan konsensus regional, Indonesia dapat mengubah tantangan-tantangan tersebut menjadi peluang-peluang yang tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, namun juga kawasan secara keseluruhan.

Pertanyaannya, apakah pemerintah kita mempunyai kemauan politik untuk melakukan hal tersebut?

Hanya waktu yang akan memberitahu.